INGAT BATAS KEHIDUPAN

"Eling marang wewatesaning panguripan. Nalika wekdal taksih kaasta, sumangga ngupadi weninging cipta, tulusing rasa, saha utamaning karsa.”
Kawruh Uttamopadesa
— Dhimas Purnomo —
Pendahuluan.
Kehidupan manusia memiliki batas. Waktu berjalan, keadaan berubah, usia bertambah, dan kesempatan yang telah berlalu tidak selalu dapat dikembalikan. Kesadaran terhadap kenyataan tersebut bukan untuk menumbuhkan ketakutan terhadap kehidupan, melainkan untuk menempatkan kehidupan pada pemahaman yang lebih jernih.

Eling marang wewatesaning panguripan” berarti mengingat batas kehidupan. Kalimat ini merupakan ajakan untuk menyadari bahwa manusia hidup dalam keterbatasan waktu dan keadaan.

Karena itu, kehidupan tidak semestinya dijalani dengan kelalaian, kesia-siaan, atau terus-menerus mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran terhadap batas kehidupan mempunyai hubungan erat dengan laku. Kawruh bukan hanya sesuatu yang dipahami dalam pikiran, tetapi harus hadir dalam kehidupan melalui cipta, rasa, dan karsa.

Kesadaran terhadap keterbatasan kehidupan seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki cara berpikir, memurnikan rasa, dan mengarahkan kehendaknya kepada sesuatu yang utama.

Di sinilah hubungan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa menjadi penting.

Kawruh Sejati merupakan penerang yang menjadi dasar bagi manusia untuk mengenali kasunyatan, sedangkan Kawruh Uttamopadesa merupakan jalan pemahaman dan laku yang mengarahkan manusia agar pepadhang tersebut benar-benar diwujudkan dalam kehidupan.

ingatlah batas kehidupan

Makna “Eling Marang Wewatesaning Panguripan”.
Wewatesaning panguripan dapat dipahami sebagai batas-batas yang melekat pada kehidupan manusia. Manusia memiliki keterbatasan waktu, kemampuan, pengetahuan, keadaan, serta kesempatan.

Tidak semua hal dapat dilakukan, tidak semua keinginan dapat dicapai, dan tidak semua keadaan dapat dikendalikan.

Menyadari batas kehidupan berarti memahami bahwa kehidupan manusia tidak tanpa batas. Kesadaran semacam ini berbeda dari sikap takut terhadap kematian. Yang ditekankan bukanlah ketakutan terhadap berakhirnya kehidupan, melainkan kesadaran bahwa selama masih memiliki waktu, manusia mempunyai kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Orang yang tidak menyadari batas kehidupan dapat menunda perubahan tanpa akhir. Ia dapat terus berkata bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki diri, meminta maaf, belajar, berbuat baik, atau menata kehidupannya. Padahal waktu terus bergerak.

Karena itu, eling marang wewatesaning panguripan mengandung dorongan untuk hidup secara sadar. Manusia tidak perlu menunggu keadaan menjadi sempurna untuk mulai memperbaiki diri. Kehidupan yang sedang dijalani sekarang merupakan ruang untuk melakukan laku.

Selama masih ada kesempatan.
Bagian kedua dari kutipan tersebut berbunyi:

“Nalika wekdal taksih kaasta, sumangga ngupadi weninging cipta, tulusing rasa, saha utamaning karsa.”

Artinya, ketika waktu masih tersedia untuk kita jalani, marilah berupaya mencapai kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan keutamaan karsa.

Ungkapan “nalika wekdal taksih kaasta” memberikan nuansa yang lebih dalam daripada sekadar mengatakan “selagi masih ada waktu”. Waktu dipandang sebagai kesempatan yang sedang berada dalam jangkauan kehidupan manusia. Selama kesempatan itu masih ada, manusia masih dapat melakukan upaya untuk memperbaiki kualitas dirinya.

Namun, yang dikejar bukan sekadar keberhasilan lahiriah. Yang diupayakan adalah perubahan pada tiga unsur penting dalam kehidupan manusia: cipta, rasa, dan karsa.

Weninging Cipta.
Weninging cipta adalah kejernihan cipta. Cipta yang wening tidak mudah dikuasai oleh prasangka, pamrih, angan-angan, maupun pikiran yang keruh.

Kejernihan cipta diperlukan agar manusia mampu melihat sesuatu dengan lebih jujur.

Banyak persoalan kehidupan menjadi rumit bukan semata-mata karena keadaan, tetapi karena manusia melihat keadaan melalui pikiran yang telah dipenuhi kepentingan dan penilaian pribadi.

Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, weninging cipta merupakan salah satu keadaan yang memungkinkan manusia menerima pepadhang kawruh dengan lebih baik.

Kawruh Sejati bukan sekadar hasil olah pikiran, sehingga kejernihan cipta tidak dimaksudkan untuk menciptakan Kawruh Sejati. Cipta yang wening justru menjadi bagian dari laku manusia dalam membuka diri terhadap kasunyatan.

Tulusing Rasa.
Tulusing rasa menunjuk pada ketulusan rasa. Rasa yang tulus tidak dibuat-buat dan tidak semata-mata digerakkan oleh pamrih.

Ketulusan tidak berarti manusia kehilangan perasaan atau tidak memiliki keinginan. Ketulusan berarti rasa tidak terus-menerus dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, tulusing rasa dapat terlihat dalam cara manusia memperlakukan sesama, menerima keadaan, menghargai kehidupan, serta menyadari akibat dari tindakannya.

Ketulusan rasa menjadikan hubungan manusia dengan kehidupan tidak hanya berpusat pada “apa yang saya dapatkan”, tetapi juga pada “apa yang dapat saya lakukan dengan benar”.

Utamaning Karsa.
Utamaning karsa berarti keutamaan karsa. Karsa merupakan kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu. Kehendak tersebut perlu diarahkan agar tidak berhenti pada kepentingan pribadi.

Karsa yang utama bukan sekadar karsa yang kuat. Seseorang dapat memiliki kehendak yang sangat kuat, tetapi belum tentu kehendaknya mengarah pada sesuatu yang utama.

Karena itu, Kawruh Uttamopadesa menempatkan laku sebagai hal penting. Karsa yang utama harus terlihat dalam tindakan. Keutamaan tidak cukup dikatakan; ia harus diwujudkan dalam cara manusia menjalani kehidupan.

Hubungan dengan Kawruh Sejati.
Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati memiliki kedudukan yang berbeda dari pengetahuan yang sekadar diperoleh melalui pikiran manusia. Kawruh Sejati dipahami sebagai penerang yang menuntun manusia kepada pengenalan terhadap kasunyatan.

Sementara itu, Kawruh Uttamopadesa merupakan kerangka kawruh yang mengarahkan manusia untuk memahami dan menjalani kehidupan berdasarkan pepadhang tersebut.

Dengan demikian, mengingat batas kehidupan bukan sekadar renungan tentang waktu yang semakin berkurang. Kesadaran tersebut menjadi bagian dari laku untuk mewujudkan kawruh dalam kehidupan nyata.

Hubungannya dapat dipahami secara sederhana:

Kawruh Sejati → pepadhang → Kawruh Uttamopadesa → pangupaya lan laku → weninging cipta, tulusing rasa, utamaning karsa.

Kawruh Sejati memberikan penerang. Kawruh Uttamopadesa membantu manusia memahami bagaimana penerang tersebut diwujudkan dalam laku. Laku kemudian terlihat dalam kehidupan melalui perubahan cipta, rasa, dan karsa.

Batas Kehidupan Bukan Alasan untuk Takut.
Kesadaran terhadap batas kehidupan tidak dimaksudkan untuk membuat manusia terus memikirkan kematian. Jika pemahaman tersebut justru membuat seseorang takut menjalani kehidupan, maka makna laku belum sepenuhnya dipahami.

Yang penting adalah kesadaran bahwa kehidupan memiliki batas sehingga setiap kesempatan mempunyai nilai.

Manusia tidak perlu mengetahui kapan batas kehidupannya tiba untuk mulai hidup dengan benar. Justru karena waktunya tidak diketahui secara pasti, maka kehidupan yang sedang berlangsung perlu dijalani dengan penuh kesadaran.

Eling marang wewatesaning panguripan berarti tidak menyia-nyiakan kehidupan. Ia mengajarkan agar manusia tidak terus menunda apa yang semestinya dapat dilakukan sekarang.

Memperbaiki cipta dapat dimulai dari sekarang.

Menata rasa dapat dimulai dari sekarang.

Mengarahkan karsa kepada sesuatu yang utama juga dapat dimulai dari sekarang.

Dari Kawruh Menuju Laku.
Salah satu prinsip penting dalam Kawruh Uttamopadesa adalah bahwa kawruh tidak berhenti pada pemahaman. Kawruh harus menjadi laku.

Seseorang dapat mengetahui pentingnya weninging cipta, tetapi pengetahuan itu belum menjadi laku apabila cipta masih dibiarkan dikuasai prasangka.

Seseorang dapat memahami tulusing rasa, tetapi pemahaman tersebut belum menjadi laku apabila rasa masih terus digerakkan oleh pamrih.

Demikian pula, seseorang dapat mengetahui utamaning karsa, tetapi belum mewujudkannya apabila kehendaknya masih diarahkan hanya kepada kepentingan diri.

Karena itu, kesadaran terhadap batas kehidupan mempunyai fungsi yang sangat praktis. Ia mengingatkan manusia bahwa waktu untuk melakukan laku tidak berada di luar kehidupan. Laku berlangsung di dalam kehidupan yang sedang dijalani. Setiap hari memberikan kesempatan untuk menguji kawruh melalui tindakan nyata.

Menjalani Kehidupan dengan Kesadaran.
Mengingat batas kehidupan pada akhirnya bukan tentang menghitung berapa lama seseorang telah hidup, tetapi tentang bagaimana waktu yang tersedia digunakan dengan sebaik mungkin.

Kehidupan yang panjang belum tentu menunjukkan kedalaman laku. Sebaliknya, kehidupan yang dijalani dengan kesadaran dapat memberikan ruang yang luas bagi manusia untuk mengenali dirinya, memperbaiki tindakannya, dan mewujudkan nilai-nilai yang diyakininya.

Karena itu, kutipan:

“Eling marang wewatesaning panguripan.
Nalika wekdal taksih kaasta, sumangga ngupadi weninging cipta, tulusing rasa, saha utamaning karsa.”

dapat dipahami sebagai ajakan untuk tidak menunggu waktu yang sempurna.

Selama waktu masih tersedia, manusia masih memiliki kesempatan untuk melakukan laku. Kesempatan itu dapat digunakan untuk menjernihkan cipta, memurnikan rasa, dan mengutamakan karsa.

Pada akhirnya, kesadaran terhadap batas kehidupan bukanlah ajaran untuk menjauh dari kehidupan, melainkan ajakan untuk lebih sungguh-sungguh menjalani kehidupan.

Sebab kehidupan yang disadari batasnya akan lebih dihargai, dan kehidupan yang dihargai akan lebih sungguh-sungguh digunakan untuk laku.

FAQ Ingat batas kehidupan.
1. Apa arti “Eling marang wewatesaning panguripan”?
“Eling marang wewatesaning panguripan” berarti mengingat dan menyadari bahwa kehidupan manusia memiliki batas. Kesadaran tersebut mendorong manusia untuk menjalani kehidupan dengan lebih sadar dan tidak menyia-nyiakan waktu.

2. Apa hubungan batas kehidupan dengan Kawruh Uttamopadesa?
Dalam Kawruh Uttamopadesa, kesadaran terhadap batas kehidupan dapat menjadi dorongan untuk melakukan laku. Selama waktu masih tersedia, manusia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki cipta, rasa, dan karsa.

3. Apa yang dimaksud weninging cipta?
Weninging cipta adalah keadaan cipta yang jernih, tidak mudah dikuasai prasangka, pamrih, dan keruhnya pikiran.

4. Apa yang dimaksud tulusing rasa?
Tulusing rasa adalah ketulusan rasa yang tidak dibuat-buat dan tidak semata-mata digerakkan oleh pamrih pribadi.

5. Apa yang dimaksud utamaning karsa?
Utamaning karsa berarti mengarahkan kehendak kepada sesuatu yang utama dan baik, kemudian mewujudkannya dalam tindakan nyata.

6. Bagaimana hubungan Kawruh Sejati dengan laku kehidupan?
Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang, sedangkan laku merupakan perwujudan pemahaman dalam kehidupan. Dalam kerangka Uttamopadesa, kawruh tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam laku.

7. Apakah mengingat batas kehidupan berarti harus takut terhadap kematian?
Tidak. Kesadaran terhadap batas kehidupan lebih tepat dipahami sebagai kesadaran terhadap keterbatasan waktu dan kesempatan. Tujuannya adalah menjalani kehidupan dengan lebih sadar, bukan menumbuhkan ketakutan.

8. Mengapa laku perlu dilakukan ketika waktu masih ada?
Karena kehidupan manusia berlangsung dalam waktu yang terbatas. Kesempatan untuk memperbaiki diri, menjernihkan cipta, menuluskan rasa, dan mengutamakan karsa berada pada kehidupan yang sedang dijalani.

Komentar