Cipta Wening, Rasa Tulus, Karsa Utama.
Pendahuluan.
Di dalam diri manusia terdapat berbagai unsur yang membentuk kehidupan, baik yang berkaitan dengan kesadaran, kejiwaan, maupun perilaku.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, salah satu bagian penting yang perlu dipahami adalah adanya tiga daya kehidupan, yaitu cipta, rasa, dan karsa.
Cipta, rasa, dan karsa bukan tiga bagian tubuh dan bukan pula tiga benda yang dapat dipisahkan dari manusia. Ketiganya merupakan daya yang bekerja dalam kehidupan manusia dan menjadi penghubung antara kesadaran batin dengan kehidupan yang dijalani.
Melalui cipta manusia dapat mengetahui dan mempertimbangkan, melalui rasa manusia dapat merasakan dan menghayati, sedangkan melalui karsa manusia dapat menghendaki dan mengarahkan tindakannya.
Ketiga daya tersebut saling berhubungan. Cipta memberikan arah pemahaman, rasa memberikan kedalaman penghayatan, dan karsa memberikan dorongan untuk mewujudkan sesuatu dalam kehidupan.
Karena itu, kehidupan manusia tidak cukup hanya dibangun dengan kemampuan berpikir. Pemikiran yang baik perlu disertai rasa yang tulus dan karsa yang utama agar pengetahuan tidak berhenti hanya sebagai gagasan, tetapi menjadi laku nyata dalam kehidupan.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, ketiga daya tersebut juga memiliki kedudukan penting. Kawruh Sejati merupakan pepadhang yang menerangi kehidupan manusia. Cipta, rasa, dan karsa menjadi daya manusia dalam menerima, mengolah, dan mewujudkan pepadhang tersebut dalam kehidupan.
Cipta sebagai Daya untuk Mengetahui dan Memahami.
Cipta merupakan daya dalam diri manusia yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengetahui, memahami, membedakan, mempertimbangkan, dan membentuk pemahaman terhadap sesuatu hal atau kejadian.
Melalui cipta, manusia tidak hanya menerima keadaan sebagaimana adanya. Manusia dapat mengamati, bertanya, mencari hubungan, mempertimbangkan akibat, serta memahami sesuatu berdasarkan pengalaman kehidupan.
Cipta membuat manusia mampu menggunakan pengetahuan untuk menentukan bagaimana seharusnya ia bersikap.
Namun, cipta tidak selalu menghasilkan pemahaman yang benar. Cipta dapat dipengaruhi oleh keinginan, kepentingan, prasangka, kebiasaan, pengalaman masa lalu, maupun kesombongan diri. Karena itu, cipta perlu diweningkan.
Weninging cipta berarti keadaan cipta yang tidak dikuasai oleh keruhnya pamrih, prasangka, dan dorongan yang menyesatkan.
Cipta yang wening memungkinkan manusia melihat sesuatu dengan lebih jernih dan tidak terburu-buru menjadikan keinginannya sendiri sebagai kebenaran.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kemampuan berpikir bukan tujuan akhir. Pengetahuan harus membawa manusia kepada pemahaman yang semakin jernih dan akhirnya dapat diwujudkan dalam laku. Karena itu, cipta bukan sekadar alat untuk mengumpulkan pengetahuan, tetapi merupakan daya yang membantu manusia memahami kehidupan.
Cipta juga perlu dibedakan dari Kawruh Sejati. Kawruh Sejati bukan hasil ciptaan pikiran manusia. Cipta adalah daya manusia untuk memahami, sedangkan Kawruh Sejati merupakan pepadhang yang menjadi dasar bagi pengenalan terhadap kasunyatan. Dengan demikian, manusia tidak menjadikan pikirannya sendiri sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Rasa sebagai Daya untuk Menghayati.
Jika cipta berkaitan dengan mengetahui dan memahami, maka rasa berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengalami dan menghayati kehidupan.
Rasa membuat manusia tidak hanya mengetahui bahwa sesuatu dapat atau telah terjadi, tetapi juga merasakan maknanya dalam kehidupan. Melalui rasa, manusia dapat merasakan kebahagiaan, kesedihan, kasih, keprihatinan, ketenteraman, kegelisahan, dan berbagai keadaan batin lainnya.
Rasa memiliki kedudukan penting karena kehidupan manusia bukan hanya persoalan apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana sesuatu hal kehidupan itu dihayati.
Namun, sebagaimana cipta, rasa juga dapat menjadi keruh. Rasa dapat dipengaruhi oleh pamrih, keterikatan, kebencian, kecemburuan, ketakutan, dan berbagai dorongan yang membuat manusia tidak lagi mampu melihat keadaan dengan jernih. Oleh karena itu, rasa perlu ditata dan dijernihkan.
Dalam kerangka Uttamopadesa, keadaan tersebut dapat disebut tulusing rasa. Rasa yang tulus bukan berarti manusia tidak memiliki emosi atau tidak mengalami perubahan perasaan. Ketulusan rasa berarti rasa tidak dipalsukan demi kepentingan tertentu dan tidak digunakan untuk membenarkan pamrih pribadi.
Rasa yang tulus memungkinkan manusia memiliki kepekaan terhadap kehidupan. Ia dapat memahami keadaan orang lain tanpa harus kehilangan kejernihan dirinya sendiri. Ia juga dapat menerima kebahagiaan tanpa berlebihan dan menghadapi kesulitan tanpa kehilangan arah.
Rasa yang wening dan tulus menjadi dasar penting bagi hubungan manusia dengan sesamanya. Pengetahuan tanpa rasa dapat menjadi kering, sedangkan rasa tanpa kejernihan dapat mudah terseret oleh dorongan sesaat. Karena itu, rasa perlu berjalan bersama cipta.
Karsa sebagai Daya untuk Menghendaki dan Bertindak.
Karsa merupakan daya kehidupan yang berkaitan dengan kehendak, kemauan, tekad, dan dorongan manusia untuk mewujudkan sesuatu.
Karsa membuat manusia bergerak dari mengetahui dan merasakan menuju tindakan. Seseorang dapat mengetahui bahwa suatu perbuatan baik, tetapi pengetahuan tersebut belum menjadi kenyataan apabila tidak ada kehendak untuk melakukannya.
Demikian pula, seseorang dapat merasakan keadaan orang lain, tetapi rasa tersebut belum menjadi manfaat apabila tidak diwujudkan dalam tindakan.
Karena itu, karsa memiliki fungsi penting sebagai daya yang menggerakkan kehidupan.
Akan tetapi, karsa juga dapat diarahkan oleh pamrih. Kehendak yang hanya berpusat pada kepentingan diri dapat membawa manusia kepada tindakan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh sebab itu, karsa perlu diarahkan menuju utamaning karsa.
Utamaning karsa berarti kehendak yang diarahkan kepada hal yang utama, baik, dan selaras dengan kehidupan.
Karsa tidak hanya kuat, tetapi juga memiliki arah yang benar. Kemauan yang besar tanpa arah dapat menghasilkan tindakan yang besar pula, tetapi belum tentu membawa kebaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, utamaning karsa dapat tampak dalam kesediaan untuk menjalankan kewajiban, menjaga ucapan dan perbuatan, mengendalikan dorongan yang merugikan, menepati apa yang telah menjadi tanggung jawab, serta berbuat baik tanpa menjadikan pujian sebagai tujuan.
Dengan demikian, kualitas karsa tidak hanya dilihat dari seberapa kuat seseorang menginginkan sesuatu, tetapi juga dari ke mana kehendak tersebut diarahkan dan bagaimana kehendak itu diwujudkan.
Cipta, rasa, dan karsa tidak seharusnya dipahami sebagai tiga daya yang bekerja sendiri-sendiri. Ketiganya merupakan satu kesatuan dalam kehidupan manusia.
Cipta membantu manusia untuk mengetahui.
Rasa membantu manusia untuk menghayati.
Karsa membantu manusia untuk mewujudkan.
Dari hubungan tersebut dapat terlihat bahwa ketiganya membentuk suatu rangkaian:
Cipta → memahami → rasa → menghayati → karsa → melakukan.
Namun hubungan itu tidak selalu berjalan secara lurus. Cipta dapat mempengaruhi rasa, rasa dapat mempengaruhi karsa, dan karsa yang diwujudkan dalam tindakan dapat kembali memberikan pengalaman yang memperkaya cipta dan rasa.
Karena itu, pembentukan manusia tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak pengetahuan. Pengetahuan perlu dijernihkan melalui cipta, dihayati melalui rasa, kemudian diwujudkan melalui karsa.
Apabila cipta berkembang tetapi rasa tidak tertata, manusia dapat menjadi pandai tetapi kurang memiliki kepekaan.
Apabila rasa kuat tetapi cipta tidak jernih, manusia dapat mudah terbawa perasaan.
Apabila cipta dan rasa sudah baik tetapi karsa lemah, pemahaman dan penghayatan tidak mudah menjadi tindakan nyata.
Keseimbangan ketiganya menjadi penting.
Dalam kerangka ini dapat dirumuskan:
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa.
Cipta perlu wening agar pemahaman tidak dikaburkan oleh pamrih. Rasa perlu tulus agar penghayatan tidak dipalsukan oleh kepentingan. Karsa perlu utama agar kehendak diarahkan kepada kehidupan yang baik.
Cipta, Rasa, dan Karsa dalam Hubungannya dengan Kawruh Sejati.
Kawruh Uttamopadesa memandang bahwa kawruh tidak berhenti pada mengetahui.
Kawruh harus kawruhan, kudu kasumurupan, kudu dilakoni, lan kudu kasunyatan ing panguripan.
Dalam hubungan tersebut, cipta, rasa, dan karsa menjadi daya penting dalam proses penghayatan kawruh.
Cipta membantu manusia memahami kawruh. Rasa membantu manusia menghayati makna kawruh. Karsa membantu manusia menjalankan kawruh dalam kehidupan.
Dengan demikian, Kawruh Sejati tidak seharusnya berhenti sebagai pembicaraan atau pengetahuan yang hanya tersimpan dalam pikiran.
Pepadhang Kawruh Sejati perlu tampak dalam perubahan kehidupan manusia melalui laku yang nyata.
Di sinilah hubungan antara Kawruh Sejati, Kawruh Uttamopadesa, dan Kawruh Kasunyatan dapat dipahami. Kawruh Sejati menjadi pepadhang; Kawruh Uttamopadesa menjadi pedoman kawruh yang menuntun manusia dalam memahami dan menjalani kehidupan; sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan yang diperoleh melalui proses pengenalan dan penghayatan kehidupan.
Cipta, rasa, dan karsa menjadi daya manusia dalam menjalani proses tersebut.
Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Dasar Laku.
Pada akhirnya, kualitas cipta, rasa, dan karsa dapat dilihat melalui laku kehidupan.
Cipta yang wening tampak dari cara manusia memahami sesuatu dengan jernih dan tidak mudah dikuasai prasangka.
Rasa yang tulus tampak dari sikap yang tidak dibuat-buat, memiliki kepekaan, dan tidak menjadikan perasaan sebagai alasan untuk merugikan orang lain.
Karsa yang utama tampak dari kehendak yang diwujudkan melalui tindakan yang baik dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, ukuran kematangan cipta, rasa, dan karsa bukan semata-mata apa yang dikatakan seseorang tentang dirinya, melainkan bagaimana ketiganya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia dapat berbicara tentang kebenaran, tetapi laku menunjukkan apakah kebenaran itu benar-benar telah dipahami.
Manusia dapat berbicara tentang ketulusan, tetapi tindak tanduk atau perilaku selalu menunjukkan apakah rasa benar-benar tulus.
Manusia dapat berbicara tentang kehendak yang baik, tetapi tindakan menunjukkan ke mana karsa sebenarnya diarahkan.
Karena itu, cipta, rasa, dan karsa merupakan dasar penting dalam pembentukan laku manusia.
Penutup.
Di dalam diri manusia terdapat tiga daya kehidupan yang saling berkaitan, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta merupakan daya untuk mengetahui dan memahami, rasa merupakan daya untuk menghayati, sedangkan karsa merupakan daya untuk menghendaki dan mewujudkan.
Ketiganya tidak dimaksudkan untuk berjalan sendiri-sendiri. Cipta perlu diweningkan, rasa perlu ditulusi, dan karsa perlu diarahkan kepada yang utama.
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa menjadi satu kesatuan dalam membentuk kehidupan manusia yang selaras.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, ketiga daya tersebut tidak berhenti pada pengertian. Ketiganya harus menjadi kekuatan yang membawa kawruh ke dalam kehidupan. Sebab kawruh yang hanya diketahui belum menjadi laku, rasa yang hanya dirasakan belum menjadi tindakan, dan kehendak yang hanya disimpan belum menjadi kenyataan.
Kawruh menjadi berarti ketika pepadhang yang dipahami dapat menuntun cipta, menjernihkan rasa, mengarahkan karsa, dan akhirnya tampak dalam laku kehidupan.
Dengan demikian, cipta, rasa, dan karsa bukan sekadar tiga istilah untuk menjelaskan kehidupan batin manusia. Ketiganya merupakan tiga daya kehidupan yang menentukan bagaimana manusia memahami, menghayati, dan menjalani panguripan.
FAQ Tiga Daya Kehidupan Manusia.
1. Apa yang dimaksud dengan tiga daya kehidupan manusia?
Tiga daya kehidupan manusia adalah cipta, rasa, dan karsa. Cipta berkaitan dengan kemampuan mengetahui dan memahami, rasa berkaitan dengan kemampuan menghayati, sedangkan karsa berkaitan dengan kehendak dan dorongan untuk mewujudkan sesuatu dalam tindakan.
2. Apa fungsi cipta dalam kehidupan manusia?
Cipta merupakan daya untuk mengetahui, memahami, mempertimbangkan, dan membedakan. Cipta yang wening membantu manusia melihat sesuatu dengan lebih jernih dan tidak mudah dikuasai prasangka maupun pamrih.
3. Apa fungsi rasa dalam kehidupan manusia?
Rasa merupakan daya untuk menghayati kehidupan. Melalui rasa, manusia dapat merasakan dan memahami berbagai keadaan kehidupan. Rasa yang tulus membantu manusia memiliki kepekaan tanpa mudah terseret oleh dorongan perasaan yang keruh.
4. Apa fungsi karsa dalam kehidupan manusia?
Karsa merupakan daya kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu. Karsa mengubah pemahaman dan penghayatan menjadi tindakan. Karena itu, karsa perlu diarahkan kepada utamaning karsa, yaitu kehendak yang menuju kepada kebaikan dan keselarasan kehidupan.
5. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan tiga daya yang saling berkaitan. Cipta membantu manusia memahami, rasa membantu menghayati, dan karsa membantu mewujudkan. Ketiganya membentuk kesatuan dalam menjalani kehidupan.
6. Mengapa cipta harus wening, rasa harus tulus, dan karsa harus utama?
Karena ketiga daya tersebut dapat dipengaruhi oleh pamrih, prasangka, keterikatan, dan dorongan yang tidak selaras. Weninging cipta, tulusing rasa, utamaning karsa merupakan arah pembentukan ketiga daya agar dapat digunakan secara baik dalam kehidupan.
7. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati merupakan pepadhang, sedangkan cipta, rasa, dan karsa merupakan daya manusia dalam menerima, menghayati, dan mewujudkan pepadhang tersebut dalam kehidupan. Karena itu, Kawruh Sejati tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi perlu tampak dalam laku.
8. Apakah cipta, rasa, dan karsa merupakan Kawruh Sejati?
Tidak. Cipta, rasa, dan karsa merupakan daya kehidupan manusia. Kawruh Sejati memiliki kedudukan yang berbeda. Kawruh Sejati bukan hasil ciptaan pikiran manusia, melainkan pepadhang yang menjadi dasar bagi pengenalan terhadap kasunyatan.
9. Mengapa cipta, rasa, dan karsa harus diwujudkan dalam laku?
Karena pemahaman yang tidak diwujudkan belum menjadi kenyataan dalam kehidupan. Dalam Kawruh Uttamopadesa, kawruh tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dipahami, dijalani, dan menjadi kasunyatan dalam panguripan.
10. Apa prinsip utama dalam mengembangkan cipta, rasa, dan karsa?
Prinsip utamanya adalah Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa. Ketiganya menjadi dasar untuk membentuk kehidupan yang lebih jernih, tulus, dan terarah dalam laku.

Komentar
Posting Komentar