Pembuka.
Kebijaksanaan sering dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan yang tepat, membedakan yang baik dan yang tidak baik, serta menjalani kehidupan dengan penuh pertimbangan. Namun, kebijaksanaan tidak semata-mata lahir dari banyaknya pengetahuan. Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Dalam perspektif Kawruh Sejati, kebijaksanaan memiliki hubungan yang erat dengan kejernihan batin. Kawruh Sejati tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengetahui sesuatu, tetapi menuntun manusia untuk mengenali jati diri, memahami kehidupan sebagaimana adanya, serta menata cipta, rasa, dan karsa agar tidak dikuasai oleh kepentingan diri yang sempit.
Karena itu, kebijaksanaan dapat dipandang sebagai salah satu buah dari pemahaman yang benar terhadap kehidupan. Semakin jernih seseorang memahami dirinya dan kehidupan, semakin bijaksana pula cara ia berpikir, merasakan, mengambil keputusan, dan bertindak.
1. Kebijaksanaan Bukan Sekadar Pengetahuan.
Pengetahuan berada pada wilayah mengetahui, sedangkan kebijaksanaan berada pada wilayah bagaimana pengetahuan itu digunakan dalam kehidupan.
Orang dapat mengetahui bahwa kemarahan merugikan, tetapi ketika tersinggung ia tetap dikuasai amarah. Orang dapat mengetahui pentingnya kesabaran, tetapi belum tentu mampu bersabar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Di sinilah perbedaan antara pengetahuan dan kebijaksanaan menjadi nyata. Kawruh Sejati mengarahkan manusia agar pengetahuan tidak berhenti sebagai kumpulan pemahaman dalam pikiran. Kawruh harus menjadi kesadaran yang hidup dan diwujudkan melalui laku.
Kebijaksanaan muncul ketika seseorang mampu menggunakan pengetahuannya secara tepat sesuai dengan keadaan. Ia tidak hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga mampu menjalankan kebenaran itu tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
2. Kawruh Sejati dan Pengenalan Diri.
Salah satu dasar Kawruh Sejati adalah pengenalan terhadap jati diri. Manusia sering kali mengira bahwa dirinya adalah segala sesuatu yang muncul dalam pikirannya. Ketika muncul kemarahan, ia berkata, "Aku marah." Ketika muncul keinginan, ia berkata, "Aku menginginkan ini." Ketika muncul kebencian, ia merasa bahwa kebencian tersebut adalah bagian mutlak dari dirinya.
Padahal, cipta, rasa, dan karsa dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pikiran berubah, perasaan berubah, keinginan berubah, pandangan berubah, bahkan keputusan yang dahulu dianggap benar dapat kemudian dipahami secara berbeda. Kesadaran terhadap perubahan tersebut membuka ruang bagi manusia untuk melihat dirinya secara lebih jernih.
Kawruh Sejati mengajarkan bahwa manusia perlu mengenali apa yang muncul dalam batinnya tanpa terburu-buru menjadikannya sebagai kebenaran mutlak.
Dari sinilah kebijaksanaan mulai tumbuh.
Seseorang yang mampu melihat pikirannya sendiri akan lebih berhati-hati dalam berkata.
Seseorang yang mampu mengenali perasaannya akan lebih mampu mengendalikan tindakannya. Seseorang yang mampu memahami dorongan kehendaknya akan lebih mampu menentukan tindakan yang benar.
3. Hubungan Kebijaksanaan dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Kawruh Sejati memiliki perhatian besar terhadap cipta, rasa, dan karsa, karena ketiganya sangat menentukan kualitas kehidupan manusia.
Cipta berkaitan dengan cara manusia berpikir dan memahami. Rasa berkaitan dengan pengalaman batin dan kepekaan terhadap kehidupan. Karsa berkaitan dengan kehendak yang kemudian mendorong tindakan.
Jika cipta tidak jernih, manusia mudah salah memahami keadaan. Jika rasa tidak tertata, manusia mudah terbawa emosi. Jika karsa tidak terkendali, manusia dapat bertindak hanya berdasarkan keinginan sesaat.
Kebijaksanaan membutuhkan keselarasan ketiganya.
Cipta memberikan pertimbangan. Rasa memberikan kepekaan. Karsa memberikan kekuatan untuk menjalankan keputusan. Karena itu, kebijaksanaan bukan hanya persoalan berpikir secara cerdas. Kebijaksanaan adalah kemampuan menyatukan kejernihan berpikir, kedalaman rasa, dan ketepatan tindakan.
4. Kebijaksanaan Tumbuh dari Kejernihan Batin.
Batin yang penuh kepentingan diri cenderung melihat segala sesuatu berdasarkan apa yang menguntungkan atau merugikan dirinya.
Ketika mendapatkan keuntungan, ia merasa benar. Ketika kehilangan sesuatu, ia merasa keadaan tidak adil. Ketika dipuji, ia merasa dirinya tinggi. Ketika dikritik, ia merasa dirinya direndahkan.
Keadaan semacam ini membuat pandangan menjadi sempit.
Kawruh Sejati mengarahkan manusia untuk melakukan resiking cipta, rasa, lan karsa, yaitu membersihkan dan menata kehidupan batin. Pembersihan tersebut bukan sekadar kegiatan ritual, melainkan proses panjang dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia belajar mengamati pikirannya, mengenali emosinya, menata kehendaknya, serta memperbaiki tindakan yang keliru. Semakin bersih batin dari dorongan yang membutakan, semakin luas pula pandangannya. Dari keluasan pandangan inilah kebijaksanaan berkembang.
5. Kebijaksanaan Terlihat dalam Laku.
Kebijaksanaan yang hanya berada dalam kata-kata belum menjadi kebijaksanaan yang utuh. Ia harus terlihat dalam laku.
Orang yang bijaksana tidak selalu berbicara tentang kebijaksanaan. Ia menunjukkannya melalui cara menghadapi persoalan, memperlakukan orang lain, menggunakan kekuasaan, menghadapi perbedaan, dan menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan dapat terlihat ketika seseorang memilih diam daripada memperbesar pertengkaran, memilih memahami sebelum menghakimi, memilih memperbaiki kesalahan daripada mencari kambing hitam, dan memilih bertindak berdasarkan kejernihan daripada dorongan sesaat.
Dengan demikian, Kawruh Sejati tidak berhenti pada pertanyaan, "Apa yang aku ketahui?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apa yang berubah dalam diriku setelah aku mengetahui?"
Jika pengetahuan tidak mengubah cara hidup, berarti pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjadi kesadaran.
6. Kebijaksanaan dan Kemampuan Melihat Kasunyatan.
Kebijaksanaan juga berkaitan erat dengan kemampuan melihat kenyataan sebagaimana adanya.
Manusia sering melihat kenyataan melalui keinginan, ketakutan, pengalaman masa lalu, prasangka, dan kepentingan pribadi. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sederhana dapat terlihat rumit, sedangkan sesuatu yang perlu diperhatikan dapat diabaikan.
Kawruh Sejati membantu manusia mendekati kenyataan melalui batin yang lebih bening. Dalam hubungan ini, Kawruh Sejati menjadi penerang bagi Kawruh Kasunyatan. Kawruh Sejati memberikan arah pemahaman, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk mengenali kehidupan melalui proses membersihkan cipta, rasa, dan karsa.
Semakin jernih manusia melihat kenyataan, semakin tepat pula pertimbangannya. Dan semakin tepat pertimbangannya, semakin besar kemungkinan tindakannya mencerminkan kebijaksanaan.
7. Kebijaksanaan Tidak Sama dengan Merasa Paling Benar.
Salah satu tanda penting kebijaksanaan adalah kerendahan hati dalam menghadapi pengetahuan.
Orang yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu justru dapat tertutup terhadap kenyataan baru. Sebaliknya, orang yang menyadari keterbatasan dirinya akan lebih mudah mendengarkan, mengamati, dan belajar.
Kawruh Sejati tidak mendorong manusia untuk merasa lebih tinggi karena memiliki kawruh. Sebaliknya, kawruh seharusnya membuat seseorang semakin mampu melihat kekurangan dirinya sendiri.
Semakin dalam seseorang memahami kehidupan, semakin ia menyadari bahwa perjalanan mengenali diri tidak pernah selesai hanya karena memperoleh banyak pengetahuan.
Kebijaksanaan dengan demikian bukan keadaan untuk membanggakan diri, melainkan kualitas batin yang membuat seseorang semakin tenang, jernih, dan tepat dalam menjalani kehidupan.
8. Dari Kawruh Menuju Wicaksana.
Hubungan antara Kawruh Sejati dan kebijaksanaan dapat dilihat sebagai sebuah perjalanan.
Pertama, manusia mengetahui.
Kemudian ia memahami.
Setelah memahami, ia menyadari.
Kesadaran kemudian mendorong manusia untuk menata cipta, rasa, dan karsa.
Dari penataan tersebut lahirlah laku yang lebih tepat.
Dan dari laku yang terus dijalani dengan kesadaran, tumbuhlah kebijaksanaan.
Dengan demikian, kebijaksanaan bukan sesuatu yang dapat diperoleh hanya dengan membaca atau mendengar ajaran.
Kebijaksanaan merupakan hasil dari proses panjang ketika kawruh benar-benar meresap ke dalam kehidupan.
Penutup.
Hubungan kebijaksanaan dengan Kawruh Sejati pada dasarnya merupakan hubungan antara pemahaman dan laku. Kawruh Sejati memberikan jalan bagi manusia untuk mengenali jati diri, memahami kehidupan, serta membersihkan cipta, rasa, dan karsa. Kebijaksanaan merupakan salah satu buah ketika pemahaman tersebut benar-benar diwujudkan dalam kehidupan.
Manusia yang semakin mengenal dirinya akan semakin mampu mengamati pikirannya.
Manusia yang semakin jernih rasanya akan semakin mampu memahami keadaan.
Manusia yang semakin tertata karsanya akan semakin mampu bertindak dengan tepat.
Karena itu, kebijaksanaan tidak perlu dicari sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan. Ia tumbuh dari cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang mampu berpikir tanpa dikuasai prasangka, merasa tanpa dikuasai gejolak, dan bertindak tanpa dikuasai keinginan sesaat, di situlah kebijaksanaan mulai menemukan tempatnya.
Kawruh Sejati menerangi jalan. Laku membersihkan batin. Kebijaksanaan tumbuh dari keduanya.
Pada akhirnya, ukuran kedalaman kawruh bukanlah seberapa banyak seseorang mampu menjelaskan tentang kehidupan, melainkan seberapa jernih ia menjalani kehidupan itu sendiri.
FAQ
1. Apa hubungan kebijaksanaan dengan Kawruh Sejati?
Kebijaksanaan merupakan salah satu buah dari Kawruh Sejati. Semakin seseorang memahami jati diri dan kehidupan dengan jernih, semakin bijaksana pula cara berpikir, merasa, dan bertindak.
2. Apakah Kawruh Sejati sama dengan kebijaksanaan?
Tidak sama. Kawruh Sejati merupakan kawruh atau pemahaman mengenai kehidupan dan jati diri, sedangkan kebijaksanaan merupakan kemampuan menerapkan pemahaman tersebut dalam laku kehidupan.
3. Mengapa kebijaksanaan berkaitan dengan cipta, rasa, dan karsa?
Karena kebijaksanaan membutuhkan keselarasan pikiran, perasaan, dan kehendak. Cipta memberikan pertimbangan, rasa memberikan kepekaan, sedangkan karsa menggerakkan manusia untuk bertindak.
4. Bagaimana cara menumbuhkan kebijaksanaan menurut Kawruh Sejati?
Dengan mengenali diri, membersihkan cipta, rasa, dan karsa, mengamati dorongan batin, serta membiasakan diri bertindak secara sadar dan tidak terburu-buru mengikuti keinginan sesaat.
5. Apakah orang yang memiliki banyak pengetahuan pasti bijaksana?
Tidak. Pengetahuan belum tentu menjadi kebijaksanaan. Kebijaksanaan muncul ketika pengetahuan dipahami, disadari, dan diwujudkan dalam perilaku yang tepat.
6. Apa tanda seseorang mulai memiliki kebijaksanaan?
Di antaranya mampu mengendalikan diri, tidak mudah menghakimi, mampu melihat persoalan dengan jernih, terbuka terhadap kenyataan, dan mempertimbangkan akibat sebelum bertindak.

Komentar
Posting Komentar