PRINSIP BERPUSAT KE DALAM DIRI


Prinsip Berpusat ke Dalam Diri
adalah ciri keempat dalam Kawruh Uttamopadesa, yang menempatkan pembenahan dan pemurnian diri sebagai bagian penting dalam proses memahami kehidupan.

Prinsip ini mengajarkan bahwa perubahan yang mendasar tidak semata-mata dimulai dari usaha mengubah keadaan di luar diri, melainkan dari kemampuan manusia untuk mengenali, menata, dan menjernihkan apa yang berlangsung di dalam dirinya sendiri.

Berpusat ke dalam diri bukan berarti manusia harus mengabaikan lingkungan, orang lain, ataupun keadaan kehidupan yang dihadapinya.

Sebaliknya, prinsip ini mengarahkan manusia agar sebelum menilai, menyalahkan, ataupun berusaha mengubah sesuatu di luar dirinya, terlebih dahulu mampu melihat bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja di dalam dirinya sendiri.

Dengan demikian, manusia tidak hanya menjadi pengamat terhadap kehidupan, tetapi juga menjadi pengamat terhadap dirinya sendiri.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, dalam pemahaman Maja Utama, manusia memiliki bagian-bagian batin yang saling berkaitan dan mempengaruhi jalannya kehidupan.

Cipta berkaitan dengan kemampuan manusia dalam berpikir, memahami, menimbang, dan membentuk pengertian. Rasa berkaitan dengan kemampuan merasakan, menghayati, dan mengalami keadaan secara batin.

Sementara itu, karsa berkaitan dengan kehendak, dorongan, dan kemauan yang kemudian dapat diwujudkan melalui tindakan.

Ketiganya tidak berdiri sendiri. Apa yang dipikirkan dapat mempengaruhi rasa, apa yang dirasakan dapat mempengaruhi kehendak, sedangkan kehendak dapat diwujudkan menjadi tindakan.

Oleh karena itu, apabila manusia ingin membenahi kehidupannya, perhatian tidak cukup hanya diarahkan kepada salah satu bagian tersebut.

Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Kesatuan.
Cipta, rasa, dan karsa dapat dipahami sebagai rangkaian yang saling berhubungan dalam kehidupan manusia. Sebuah pikiran dapat menimbulkan perasaan tertentu, perasaan tersebut kemudian dapat melahirkan keinginan, dan keinginan dapat mendorong seseorang melakukan tindakan tertentu.

Sebagai contoh, seseorang menerima suatu keadaan yang belum tentu benar. Apabila cipta tidak jernih, keadaan tersebut dapat langsung dianggap sebagai sebuah kenyataan.

Pemahaman yang keliru kemudian dapat menimbulkan rasa kecewa, marah, takut, ataupun curiga.

Perasaan tersebut selanjutnya dapat memunculkan karsa untuk bertindak tanpa pertimbangan yang cukup dan mendalam.

Pada akhirnya, tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan persoalan baru.

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa persoalan dalam tindakan manusia terkadang bukan hanya terletak pada tindakan akhirnya, melainkan sudah bermula dari cara memahami suatu keadaan.

Karena itu, pembenahan yang dilakukan pada tingkat tindakan saja belum tentu menyelesaikan sumber persoalannya.

Kawruh Uttamopadesa memandang penting adanya pembenahan dari dalam, yaitu dengan menjernihkan cipta, menata rasa, dan mengarahkan karsa agar ketiganya dapat berjalan secara lebih selaras.

Resiking Cipta.
Resiking Cipta merupakan usaha untuk membersihkan dan menjernihkan cipta dari berbagai hal yang dapat mengganggu kemampuan manusia dalam memahami keadaan.

Cipta yang tidak jernih dapat dipengaruhi oleh prasangka, kepentingan pribadi, dugaan, kebiasaan berpikir, ataupun keinginan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya belum diketahui kebenarannya.

Resiking Cipta bukan berarti manusia harus berhenti berpikir atau menghilangkan seluruh pendapat pribadi. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk menyadari bahwa pikiran manusia tidak selalu benar.

Manusia perlu memberikan ruang bagi pemeriksaan, pertimbangan, dan pengamatan sebelum menetapkan sesuatu sebagai kebenaran.

Cipta yang resik memungkinkan manusia membedakan antara apa yang benar-benar diketahui dengan apa yang hanya diduga, diharapkan, dipercaya, ataupun didengar dari orang lain.

Dengan kejernihan tersebut, manusia dapat menghadapi kenyataan dengan pertimbangan yang lebih tepat.

Karena itu, Resiking Cipta memiliki hubungan erat dengan kemampuan manusia dalam mengenali kasunyatan, yaitu kenyataan sebagaimana adanya, bukan semata-mata sebagaimana yang ingin dilihat atau dipercaya.

Weninging Rasa.
Selain cipta, manusia juga perlu memperhatikan rasa. Weninging Rasa merupakan usaha untuk menjadikan rasa lebih jernih dan tidak mudah dikuasai oleh gejolak perasaan maupun kepentingan pribadi.

Rasa merupakan bagian penting dalam kehidupan karena manusia tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan. Namun, rasa yang sedang kuat dapat mempengaruhi cara manusia memahami suatu keadaan. Ketika seseorang sedang marah, misalnya, suatu persoalan dapat terlihat berbeda dibandingkan ketika pikirannya berada dalam keadaan tenang.

Karena itu, Weninging Rasa bukan berarti manusia harus menghilangkan perasaan. Rasa tetap diperlukan agar manusia mampu menghayati kehidupan, memahami keadaan orang lain, memiliki kepekaan, dan merasakan akibat dari suatu tindakan. Yang perlu ditata adalah agar rasa tidak menjadi penguasa yang menentukan segala sesuatu tanpa pertimbangan.

Rasa yang wening memungkinkan manusia mengalami berbagai keadaan tanpa langsung dikuasai oleh keadaan tersebut. Dengan demikian, manusia memiliki ruang batin untuk mengamati perasaan sebelum menjadikannya dasar untuk menentukan kehendak dan tindakan.

Penataan Karsa.
Cipta yang jernih dan rasa yang tertata belum lengkap apabila tidak diikuti dengan Penataan Karsa. Karsa merupakan kehendak atau dorongan yang mengarahkan manusia kepada sesuatu yang ingin dilakukan.

Karsa yang tidak tertata dapat membuat manusia bertindak berdasarkan keinginan sesaat, kepentingan pribadi, dorongan emosi, ataupun ambisi tertentu. Bahkan seseorang dapat memiliki pengetahuan yang baik dan memahami sesuatu secara benar, tetapi tetap melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang diketahuinya.

Karena itu, penataan karsa diperlukan agar kehendak manusia tidak berjalan tanpa arah. Karsa perlu diselaraskan dengan cipta yang jernih dan rasa yang wening sehingga tindakan yang lahir bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat, melainkan merupakan hasil dari kesadaran yang lebih utuh.

Dengan demikian, Resiking Cipta, Weninging Rasa, dan Penataan Karsa merupakan tiga bagian yang saling melengkapi. Cipta memberikan kejernihan dalam memahami, rasa memberikan kedalaman dalam menghayati, sedangkan karsa memberikan arah bagi perwujudan dalam tindakan.

Berpusat ke Dalam Diri dalam Kehidupan Sehari-hari.
Prinsip Berpusat ke Dalam Diri dapat diterapkan dalam berbagai keadaan sehari-hari.

Ketika menerima berita, misalnya, manusia dapat terlebih dahulu memeriksa apakah berita tersebut benar sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Ketika muncul kemarahan, manusia dapat mengamati rasa tersebut sebelum mengambil keputusan.

Ketika muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, manusia dapat mempertimbangkan apakah kehendak tersebut benar-benar selaras dengan kejernihan cipta dan weninging rasa.

Dengan cara demikian, manusia belajar tidak langsung bereaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi.

Ada proses kesadaran yang berlangsung di dalam diri sebelum suatu keadaan diterjemahkan menjadi pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan.

Inilah makna penting berpusat ke dalam diri. Manusia belajar menjadikan dirinya sendiri sebagai ruang pengamatan dan pembenahan. Ia tidak selalu mencari penyebab persoalan di luar dirinya, tetapi juga berani melihat bagaimana dirinya berpikir, merasakan, menghendaki, dan bertindak.

Berpusat ke Dalam Diri Bukan Berarti Mementingkan Diri Sendiri.
Perlu dibedakan antara berpusat ke dalam diri dengan mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri berarti menempatkan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama, sedangkan berpusat ke dalam diri justru merupakan usaha untuk mengenali dan membenahi diri agar tidak dikuasai oleh kepentingan pribadi.

Dengan demikian, semakin manusia mampu melihat dirinya dengan jernih, semakin besar pula kemungkinannya untuk bertindak secara selaras terhadap lingkungan dan sesamanya. Pembenahan ke dalam diri pada akhirnya dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan di luar diri.

Kawruh Uttamopadesa melalui prinsip ini tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga mengajak manusia melihat siapa yang mengetahui, bagaimana pengetahuan itu bekerja di dalam dirinya, bagaimana rasa mempengaruhinya, dan bagaimana kehendak akhirnya diwujudkan dalam laku.

Pada akhirnya, Prinsip Berpusat ke Dalam Diri mengingatkan bahwa pengetahuan yang benar belum tentu menghasilkan kehidupan yang benar apabila cipta, rasa, dan karsa belum tertata. Oleh sebab itu, manusia perlu terus melakukan pembenahan dari dalam agar apa yang dipikirkan, dirasakan, dikehendaki, dan dilakukan dapat bergerak menuju keselarasan.

FAQ
1. Apa yang dimaksud Prinsip Berpusat ke Dalam Diri?
Prinsip Berpusat ke Dalam Diri adalah ciri keempat Kawruh Uttamopadesa yang menekankan pembenahan manusia melalui pemurnian dan penataan cipta, rasa, serta karsa dari dalam dirinya sendiri.

2. Mengapa pembenahan harus dimulai dari dalam diri?
Karena cara manusia berpikir, merasakan, dan menghendaki sangat mempengaruhi cara memahami keadaan serta menentukan tindakan. Pembenahan dari dalam membantu manusia tidak mudah dikuasai oleh prasangka, emosi, dan kepentingan pribadi.

3. Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta berkaitan dengan berpikir dan memahami, rasa berkaitan dengan merasakan dan menghayati, sedangkan karsa berkaitan dengan kehendak dan dorongan untuk bertindak. Ketiganya saling mempengaruhi.

4. Apa yang dimaksud Resiking Cipta?
Resiking Cipta adalah usaha menjernihkan pikiran agar manusia mampu memahami keadaan secara lebih objektif dan tidak mudah dikuasai oleh dugaan, prasangka, ataupun kepentingan pribadi.

5. Apa yang dimaksud Weninging Rasa?
Weninging Rasa adalah usaha menata dan menjernihkan perasaan sehingga rasa tidak mudah menguasai manusia dan menentukan keputusan tanpa pertimbangan yang cukup.

6. Mengapa karsa perlu ditata?
Karena kehendak yang tidak tertata dapat mendorong manusia melakukan tindakan berdasarkan dorongan sesaat. Penataan karsa membantu agar kehendak selaras dengan cipta yang jernih dan rasa yang wening.

7. Apakah berpusat ke dalam diri berarti mementingkan diri sendiri?
Tidak. Berpusat ke dalam diri berarti melakukan pengamatan dan pembenahan terhadap diri sendiri, bukan menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama dalam kehidupan.

8. Apa tujuan utama Prinsip Berpusat ke Dalam Diri?
Tujuannya adalah membentuk keselarasan antara cipta, rasa, karsa, dan tindakan sehingga manusia mampu menjalani kehidupan dengan kesadaran yang lebih jernih dan tidak mudah dikuasai oleh keadaan dari luar maupun gejolak dari dalam dirinya.

Komentar