Memahami Makna dan Kedudukan Istilah dalam Kawruh Uttamopadesa
Wedharan Kawruh Uttamopadesa merupakan uraian mengenai makna, kedudukan, serta hubungan berbagai istilah pokok yang terdapat dalam Kawruh Uttamopadesa.
Wedharan ini tidak secara langsung membahas tahapan laku, melainkan memberikan dasar pemahaman agar seseorang terlebih dahulu mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud dengan setiap istilah sebelum memasuki pemahaman yang lebih mendalam.
Dengan pengertian yang jelas, berbagai konsep dalam Kawruh Uttamopadesa tidak mudah tercampur atau ditafsirkan secara berbeda-beda.
Berbagai istilah seperti cipta, rasa, karsa, budi, sukma, cetana, kasunyatan, kaselarasan, panguripan, kawruh, prabodha, samadhi, lampah, dan laku memiliki kedudukan masing-masing.
Istilah-istilah tersebut bukan sekadar kumpulan kata, melainkan bagian dari suatu rangkaian pemahaman yang saling berhubungan. Karena itu, memahami satu istilah juga perlu melihat hubungannya dengan istilah lainnya.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kawruh atau pengetahuan sejati, tidak berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran. Kawruh diharapkan menjadi pepadhang atau penerang bagi cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, serta menumbuhkan budi luhur sehingga akhirnya tampak dalam lampah kehidupan.
Dengan demikian, pemahaman yang benar diharapkan dapat melahirkan kehidupan yang lebih selaras dengan tatanan panguripan.
Cipta, Rasa, Karsa, dan Cetana
Salah satu dasar penting dalam Wedharan Kawruh Uttamopadesa, menurut Maja Utama, adalah memahami perbedaan antara cipta, rasa, karsa, dan cetana.
Keempat istilah tersebut berkaitan erat dengan kehidupan batin manusia, tetapi masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Cipta merupakan daya untuk berpikir, menimbang, mengingat, menyusun pemahaman, serta mencari pengertian terhadap berbagai perkara.
Melalui cipta, manusia dapat membandingkan keadaan, mempertimbangkan kemungkinan, memahami pengalaman, dan menentukan pilihan.
Cipta menjadi sarana penting bagi manusia untuk membangun pamawas atau pandangan terhadap kehidupan.
Sementara itu, rasa merupakan daya untuk menerima dan merasakan kenyataan secara lebih dalam. Rasa tidak hanya berkaitan dengan rasa senang atau susah, tetapi juga dapat menangkap kasih, ketenteraman, keselarasan, keprihatinan, dan berbagai pengalaman batin lainnya.
Karena itu, rasa memiliki peran dalam memahami sesuatu yang terkadang belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh cipta.
Cipta dan rasa tidak seharusnya dipertentangkan. Cipta memberikan kejelasan dalam berpikir, sedangkan rasa memberikan kedalaman dalam merasakan.
Cipta tanpa rasa dapat menjadikan pandangan kaku, sedangkan rasa tanpa cipta dapat membuat seseorang mudah terbawa oleh gejolak batin. Keselarasan keduanya menjadi dasar bagi tumbuhnya pamawas yang lebih utuh.
Berbeda dari rasa, cetana merupakan pepadhanging kasadaran, yaitu kesadaran yang menerangi berbagai aktivitas batin.
Cetana bukan sesuatu yang berpikir, merasakan, atau memilih. Cipta yang berpikir, rasa yang merasakan, dan karsa yang menghendaki, sedangkan cetana menerangi semuanya sehingga aktivitas batin dapat disadari dengan lebih jernih.
Rasa masih dapat berubah mengikuti keadaan, sedangkan cetana dapat semakin bening melalui panggulawenthah atau pengolahan diri.
Ketika cetana semakin wening, cipta menjadi semakin jelas, rasa semakin halus, dan karsa semakin terarah kepada kebaikan.
Cipta dan Budi.
Cipta dan budi juga memiliki kedudukan yang berbeda. Cipta merupakan daya untuk berpikir dan menghasilkan pamanggih atau gagasan, sedangkan budi merupakan daya luhur yang mengarahkan cipta kepada kayekten dan kabecikan.
Cipta dapat menjadi sangat tajam tanpa selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Kepandaian berpikir dapat digunakan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, tetapi dapat pula digunakan untuk menipu atau merugikan orang lain apabila tidak mendapat tuntunan budi.
Karena itu, kecerdasan semata belum dapat disebut sebagai kebijaksanaan.
Dalam kerangka ini, cipta dapat dipandang sebagai piranti atau alat, sedangkan budi merupakan panuntun atau penuntunnya.
Cipta menghasilkan pemikiran, sementara budi memilih dan mengarahkan pemikiran tersebut berdasarkan kebaikan, kebenaran, serta keselarasan kehidupan. Ketika cipta dan budi berjalan bersama, manusia tidak hanya menjadi pandai, tetapi juga menjadi wicaksana.
Sukma dan Jatining Panguripan.
Sukma dan Jatining Panguripan bukanlah istilah yang sama. Sukma merupakan tempat berlangsungnya cipta, rasa, dan karsa.
Melalui sukma, manusia dapat berpikir, merasakan, menghendaki, serta menjalankan berbagai aktivitas kehidupan batin.
Sukma masih dapat berubah sesuai dengan proses kehidupan dan pengolahan diri. Ketika seseorang membiasakan diri mengembangkan kebaikan, sukma dapat menjadi semakin bersih dan tenteram.
Sebaliknya, keserakahan, kebencian, kesombongan, serta keinginan yang tidak baik dapat membuat sukma menjadi keruh. Karena itu, sukma membutuhkan pengolahan secara terus-menerus.
Adapun Jatining Panguripan merupakan dasar kehidupan yang memberikan daya kepada sukma dan raga. Jatining Panguripan tidak berpikir, tidak merasakan, dan tidak berkehendak, melainkan menjadi sumber daya kehidupan yang berasal dari Sang Sumber Panguripan.
Raga tidak dapat hidup tanpa daya tersebut, demikian pula sukma tidak dapat menjalankan fungsinya tanpa adanya kehidupan.
Dengan demikian, sukma menjadi tempat pengolahan diri, sedangkan Jatining Panguripan menjadi dasar atau sumber kehidupan.
Ketika sukma semakin bersih, pepadhanging Jatining Panguripan dapat semakin nyata dalam kehidupan manusia.
Raga dan Janma.
Raga adalah badan yang dapat dilihat dan menjadi piranti manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Dengan raga, manusia dapat melihat, mendengar, bekerja, bergerak, berhubungan dengan sesama, serta berinteraksi dengan alam.
Sedangkan janma merupakan kesatuan antara raga, sukma, dan Jatining Panguripan. Karena itu, janma tidak hanya berarti badan lahiriah, tetapi keseluruhan kehidupan manusia yang mencakup cipta, rasa, karsa, budi, serta cetana.
Raga dapat sehat, sakit, menjadi tua, dan akhirnya mengalami perubahan sesuai dengan tatanan alam. Karena itu, kualitas janma tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan raga, kedudukan, atau kekuatan lahiriah, tetapi terutama oleh kebersihan cipta, kehalusan rasa, kebaikan karsa, dan keluhuran budi yang diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.
Panguripan, Tatananing Panguripan, dan Kaselarasan.
Panguripan merupakan keseluruhan kehidupan yang berlangsung dari Sang Sumber Panguripan dan berjalan menurut suatu tatanan tertentu.
Panguripan tidak sekadar berarti bernapas atau hidupnya raga, tetapi mencakup hubungan antara raga, sukma, cipta, rasa, karsa, sesama manusia, alam, serta Sang Sumber Panguripan.
Setiap kejadian dalam kehidupan dapat menjadi sarana belajar dan mengolah diri. Kebahagiaan, kesulitan, pertemuan, maupun perpisahan dapat menjadi pengalaman yang membantu manusia mengembangkan cipta, menghaluskan rasa, dan mengarahkan karsa.
Sementara itu, Tatananing Panguripan merupakan tatanan yang menjaga agar seluruh kehidupan tetap berjalan secara runtut, seimbang, dan selaras.
Tatanan tersebut bukan hasil buatan manusia yang dapat diubah sesuka hati. Manusia justru perlu memahami, menghormati, dan menyelaraskan dirinya dengan tatanan tersebut.
Dalam tatanan kehidupan, setiap tindakan memiliki akibat atau buah. Perbuatan baik menumbuhkan ketenteraman dan keselarasan, sedangkan tindakan yang menyimpang dari kayekten dapat menimbulkan keruwetan dan penderitaan sebagai bagian dari sifat tatanan kehidupan itu sendiri.
Kaselarasan adalah keadaan ketika raga, sukma, cipta, rasa, dan karsa berjalan secara runtut serta sesuai dengan tatananing panguripan.
Kaselarasan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan menghadapi berbagai keadaan dengan pamawas yang jernih, budi luhur, dan tindakan yang tepat.
Kaselarasan juga mencakup hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Sumber Panguripan. Karena itu, menjaga alam, menghormati sesama, hidup jujur, tulus, penuh kasih, serta bertanggung jawab merupakan bagian dari upaya mewujudkan kaselarasan.
Kasunyatan sebagai Dasar Kawruh.
Kasunyatan merupakan keadaan yang benar-benar ada, bukan sesuatu yang dibentuk agar sesuai dengan keinginan, pendapat, atau harapan manusia.
Karena itu, manusia perlu berusaha memahami kenyataan sebagaimana adanya, bukan memaksa kenyataan agar sesuai dengan keinginannya.
Pandangan manusia terhadap kenyataan dapat menjadi kabur apabila cipta dipengaruhi pamrih, rasa dikuasai keinginan, dan karsa terdorong hawa nepsu. Dalam keadaan demikian, manusia mudah melihat sesuatu berdasarkan apa yang ingin dipercayainya daripada apa yang benar-benar terjadi.
Memahami kasunyatan berarti berani menerima keadaan secara jujur. Kebahagiaan dan kesulitan sama-sama dapat menjadi pelajaran. Dengan demikian, seseorang tidak mudah menjadi sombong ketika mendapatkan keberhasilan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Lampah dan Laku.
Lampah dan laku mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi tidak sama. Lampah adalah seluruh tindakan dan cara manusia menjalani kehidupan, termasuk pikiran, perkataan, pekerjaan, perbuatan, serta hubungan dengan sesama dan alam.
Sedangkan laku merupakan upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengolah diri. Laku dapat berupa usaha mengendalikan hawa nafsu, membersihkan cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, serta mengembangkan budi.
Dengan demikian, setiap laku merupakan bagian dari lampah, tetapi tidak setiap lampah dapat disebut laku. Kegiatan sehari-hari baru memiliki kedudukan sebagai laku ketika dilakukan dengan kesadaran, mawas diri, dan tujuan untuk memperbaiki kualitas diri.
Kawruh, Lampah, dan Prabodha.
Dalam Kawruh Uttamopadesa, kawruh dan lampah tidak dapat dipisahkan. Kawruh memberikan pepadhang kepada cipta, sedangkan lampah menjadi wujud nyata dari kawruh dalam kehidupan.
Kawruh yang hanya dipahami tetapi tidak mengubah perilaku belum menghasilkan buah yang nyata. Sebaliknya, lampah tanpa kawruh dapat kehilangan arah. Karena itu, kawruh seharusnya membuat cipta semakin bening, rasa semakin halus, karsa semakin baik, dan budi semakin luhur.
Hubungan tersebut berlanjut kepada prabodha. Kawruh merupakan pemahaman terhadap kenyataan, sedangkan prabodha adalah tumbuhnya pepadhang atau kesadaran dalam diri sehingga pengetahuan tidak lagi sekadar berada dalam pikiran, tetapi telah menjadi pangawikan yang mengubah cipta, rasa, dan karsa.
Seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan tetapi belum tentu mencapai prabodha. Prabodha tumbuh ketika kawruh diolah melalui mawas diri, pengolahan sukma, serta lampah yang baik sehingga pemahaman terhadap kasunyatan menjadi semakin jernih.
Prabodha dan Samadhi.
Prabodha dan samadhi juga memiliki kedudukan yang berbeda. Prabodha merupakan mekarnya pepadhang atau kesadaran batin, sedangkan samadhi merupakan keadaan batin yang wening, mantep, dan nyawiji sehingga keadaan batin menjadi lebih tenang dan jernih.
Samadhi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membersihkan cipta, menghaluskan rasa, mengarahkan karsa, dan mengeningkan cetana.
Prabodha sendiri tidak hanya dapat tumbuh melalui samadhi, tetapi juga melalui mawas diri, perbuatan baik, serta pengalaman kehidupan.
Yang paling penting, prabodha harus tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pemahaman semakin terang, perkataan menjadi lebih jujur, tindakan semakin bijaksana, rasa semakin halus, dan budi semakin luhur.
Budi, Akal, Kawicaksanan, Kabecikan, dan Katulusan.
Akal merupakan daya untuk berpikir, menimbang, menyusun gagasan, serta memecahkan persoalan. Budi, sebaliknya, merupakan daya luhur yang menuntun akal agar kepandaian tidak hanya menghasilkan kemampuan, tetapi juga kebaikan dan kebijaksanaan.
Akal dapat menghasilkan berbagai penemuan, tetapi tanpa budi, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk merugikan orang lain. Karena itu, kesempurnaan janma bukan terletak pada ketajaman akal semata, melainkan pada keselarasan antara akal dan budi.
Hubungan yang sama terlihat antara kawruh dan kawicaksanan. Kawruh memberikan pemahaman, sedangkan kawicaksanan menunjukkan bagaimana pemahaman tersebut digunakan secara tepat.
Kawicaksanan tumbuh ketika kawruh telah dilampaui melalui pengalaman dan lampah sehingga menghasilkan kebeningan cipta, kehalusan rasa, kebaikan karsa, dan keluhuran budi.
Demikian pula kabecikan dan katulusan perlu berjalan bersama. Kabecikan merupakan tindakan yang memberikan manfaat, ketenteraman, dan keselarasan, sedangkan katulusan merupakan kebersihan batin ketika melakukan kebaikan tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan balasan.
Kebaikan tanpa ketulusan masih dapat bercampur dengan kepentingan pribadi, sedangkan ketulusan harus diwujudkan dalam tindakan yang benar-benar memberikan manfaat. Ketika kabecikan dan katulusan menyatu, tindakan manusia menjadi lebih murni dan memiliki nilai yang lebih dalam.
Penutup.
Wedharan Kawruh Uttamopadesa memberikan dasar untuk memahami bahwa setiap istilah dalam Kawruh Uttamopadesa mempunyai makna, fungsi, dan kedudukan yang saling berkaitan.
Cipta, rasa, karsa, budi, akal, cetana, sukma, Jatining Panguripan, panguripan, kasunyatan, kaselarasan, kawruh, prabodha, samadhi, lampah, dan laku tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk suatu rangkaian pemahaman yang utuh.
Pada akhirnya, kawruh yang sejati bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan sejauh mana pengetahuan tersebut mampu mengubah kehidupannya.
Kawruh seharusnya menjadikan cipta lebih bening, rasa lebih halus, karsa lebih baik, budi lebih luhur, serta lampah lebih selaras dengan tatananing panguripan.
Dari pemahaman yang jernih tumbuh kawruh, dari kawruh tumbuh prabodha, dari prabodha lahir lampah yang lebih utama, dan dari lampah yang utama tumbuh ketenteraman serta kaselarasan. Dengan demikian,
Wedharan Kawruh Uttamopadesa menjadi dasar pemahaman bagi siapa saja yang ingin mengerti kasunyatan, mengolah diri, mengembangkan budi luhur, dan menjalani kehidupan dengan lebih selaras.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan Wedharan Kawruh Uttamopadesa?
Wedharan Kawruh Uttamopadesa adalah uraian mengenai makna dan kedudukan berbagai istilah pokok dalam Kawruh Uttamopadesa agar setiap istilah dapat dipahami secara jelas dan tidak tercampur dengan istilah lainnya.
2. Apa perbedaan cipta dan rasa?
Cipta merupakan daya untuk berpikir, menimbang, mengingat, dan memahami, sedangkan rasa merupakan daya untuk menerima serta merasakan kenyataan secara lebih dalam. Keduanya perlu berjalan selaras.
3. Apa perbedaan rasa dan cetana?
Rasa merupakan daya pangraos, sedangkan cetana merupakan kesadaran yang menerangi berbagai aktivitas cipta, rasa, dan karsa. Rasa dapat berubah mengikuti keadaan, sementara cetana dapat menjadi semakin bening melalui pengolahan diri.
4. Apa perbedaan cipta dan budi?
Cipta menghasilkan pemikiran atau pamanggih, sedangkan budi mengarahkan pemikiran tersebut kepada kayekten dan kabecikan. Cipta memberikan kemampuan berpikir, sedangkan budi memberikan tuntunan agar kemampuan tersebut digunakan dengan benar.
5. Apa perbedaan raga dan janma?
Raga adalah badan lahiriah yang menjadi piranti kehidupan, sedangkan janma merupakan kesatuan raga, sukma, dan Jatining Panguripan beserta seluruh unsur kehidupan yang menyertainya.
6. Apa yang dimaksud dengan kasunyatan?
Kasunyatan adalah keadaan yang benar-benar ada dan tidak ditentukan oleh keinginan atau pendapat manusia. Kasunyatan perlu diterima dan dipahami sebagaimana adanya.
7. Apa perbedaan lampah dan laku?
Lampah adalah keseluruhan cara manusia menjalani kehidupan, sedangkan laku merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengolah dan memperbaiki diri. Laku menjadi salah satu sarana untuk membenahi lampah.
8. Mengapa kawruh harus diwujudkan dalam lampah?
Karena kawruh yang hanya berhenti sebagai pemahaman belum menghasilkan perubahan nyata. Dalam Kawruh Uttamopadesa, kawruh diharapkan mengubah cipta, rasa, karsa, dan budi sehingga dapat terlihat dalam lampah sehari-hari.
9. Apa hubungan kawruh dan prabodha?
Kawruh merupakan dasar atau awal pemahaman, sedangkan prabodha merupakan mekarnya pepadhang dalam diri ketika kawruh telah benar-benar dihayati dan mampu mengubah kehidupan.
10. Apa hubungan prabodha dan samadhi?
Prabodha adalah mekarnya pepadhang batin, sedangkan samadhi merupakan keadaan batin yang wening, mantep, dan nyawiji yang dapat menjadi sarana untuk mendukung tumbuhnya prabodha.
11. Apa hubungan budi dan akal?
Akal memberikan kemampuan untuk berpikir dan memecahkan persoalan, sedangkan budi menuntun akal agar kemampuan tersebut digunakan untuk kayekten, kabecikan, dan kaselarasan.
12. Apa yang dimaksud dengan kaselarasan?
Kaselarasan adalah keadaan ketika raga, sukma, cipta, rasa, karsa, dan budi dapat berjalan secara runtut serta selaras dengan tatananing panguripan.
13. Apa tujuan utama memahami Wedharan Kawruh Uttamopadesa?
Tujuannya adalah memperoleh pemahaman yang jelas mengenai istilah dan hubungan antarkonsep dalam Kawruh Uttamopadesa sehingga pengetahuan tidak berhenti sebagai pengertian, tetapi dapat menjadi dasar bagi pengolahan diri dan lampah kehidupan yang utama.

Komentar
Posting Komentar